Fatwa Ramadhan 9: Puasa Ramadhan dengan Niat mencari Kesembuhan atau Diet




Pertanyaan
Apa hukumnya seseorang berpuasa dengan niat mencari kesembuhan (istisyfa) atau menurunkan berat badan (diet)?

Jawaban
Jika niatnya sebatas hal itu, maka ia takkan memperoleh apa-apa (pahala) di akhirat kelak. Berdasarkan firman Allah dalam surah al-Isra ayat: 18-19;

مَّن كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا [١٧:١٨]وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا [١٧:١٩]

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik”. (Qs Al-Isra:18-19)

Niat seorang Mu’min dalam berpuasa hendaknya sejalan dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;

 من صام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه« [صحيح الترغيب 1/415

“Barang siapa yang puasa Ramadhan karena dorongan Iman dan itisab( mengharap Pahala dari Allah), akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” Shahih Targhib 1/415)/

Selain itu, para da’i hendaknya menjelaskan kepada manusia makna kata ‘ihtisaban’ dalam hadits tersebut dengan meninggalkan penyebutan faidah-faidah puasa (secara duniawi) bagi orang-orang yang masih dilembutkan hatinya. (Sumber: Fatawa Shiyam Syekh al-Utsaimin rahimahullah)


Diberdayakan oleh Blogger.